Mudik Part 2 (Klaten-Bandung)

Kami kembali ke Bandung pada hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2008 (H+3). Kami menyadari bahwa mungkin akan terjadi banyak antrian di perjalanan. Untuk itu kami membawa bekal makanan untuk camilan diperjalanan.  Kami berangkat pukul 06.00 dari rumah mertua, kemudian mampir sebentar ke rumah orang tua saya. Tangki bensin kami isi penuh di daerah Pandansimping.  Lalu lintas mulai padat dan di warnai antrian. Persinggahan kami yang pertama adalah di suatu pompa bensin di daerah Kebumen, sekitar pukul 10.00. Kami ke toilet dan membeli makanan ringan dan minuman penyegar. Selanjutnya perjalanan mengalami antrian yang cukup panjang dan lama.  Setelah mencapai daerah Banyumas kami singgah untuk melakukan solat dhuhur dan asar, sekitar pukul 15.00. Cuaca agak mendung, gerimis.  Kami melanjutkan perjalanan kembali sekitar pukul 15.30. Rute selanjutnya Gombong-Ciawitali.  Perjalanan kami diwarnai dengan hujan deras, dan cuaca yang mulai gelap.  Perjalan kami sangat lambat, mengingat pandangan yang terbatas dan jalan yang berliku.  Kami sampai di Desa Ciawitali pukul 18.21, dan singgah di masjid Al Istiqomah.  Pukul 19.00 kami melanjutkan perjalan kembali.  Selanjutnya kami makan malam, sekitar pukul 19.30, di daerah Ciamis.  Pukul 20.00 kami melanjutkan perjalanan, dan lalu lintas daerah Cikoneng, sudah mulai padat merayap.Sekitar pukul 23.40 kami masih mengantri menuju Rajapolah, namun pada suatu simpang empat, kami diminta masuk jalur alternatif ke arah Panjalu. Pada pertigaan pertama kami ambil ke arah kiri, sedangkan arah kanan menuju Panjalu.  Pada pertigaan selanjutnya, kami belok ke arah kanan menuju Ciamis.  Sesampainya di jalan besar, kami bergabung kembali dengan antrian. Pada rute alternatif ini kami berada pada urutan konvoi pertama, dan di belakang kami mobil-mobil pemudik yang lain mengikuti. Rasanya seperti rally saja. Akhirnya antrian mencapai Tanjakan Gentong (?), mobil-mobil berjalan perlahan karena antri, dan banyak orang di pinggir jalan membawa ganjal ban. Untuk mobil-mobil besar, ini diperlukan.  Jika tidak ada antrian mungkin tidak masalah, karena gas bisa dioptimalkan.  Namun dalam keadaan antri ini tidak mungkin dilakukan. Pada keadaan ini saya gunakan gigi 1, gas, rem tangan dan kaki juga harus siap, dan jaga jarak dengan kendaraan di depan.  Tanjakan ini dapat dilalui dengan baik, selanjutnya rute berliku siap menanti.  Akhirnya tanjakan berikutnya menunggu, alhamdulillah dapat kami lalui dengan baik.  Setelah melalui persimpangan rel kereta daerah Nagrek, lalulintas lancar, dan kami tiba di rumah pukul 01.30, tanggal 5 Oktober 2008.  Konsumsi bensin sekitar 1 liter untuk 15,6 km.

Advertisement

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.