Perlindungan Tebing Sungai / Riverbank Protection

February 21, 2012

Sungai pada umumnya berada dalam keseimbangan yang dinamis. Alur sungai pada umumnya terbentuk oleh beban yang melaluinya, yaitu air dan juga sedimen, yang jumlahnya berubah-ubah terhadap waktu. Dengan demikian adalah wajar apabila sungai berubah arah alurnya sesuai dengan aliran yang mengalir melaluinya. Perubahan alur sungai yang sifatnya membahayakan harta benda maupun jiwa sudah sewajarnya perlu penanganan. Perubahan alur sungai pada umumnya terlihat dari gejala-gejala gerusan dikaki tebing, yang diikuti dengan berkurangnya kemantapan tebing sungai yang dapat berlanjut pada keruntuhan tebing.

Penanganan keruntuhan tebing akibat adanya gerusan tebing pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua pilihan tindakan, yaitu 1) perlindungan secara langsung pada permukaan tebing sungai dan 2) perlindungan dengan cara mengatur aarah aliran agar tidak terjadi gerusan pada kaki tebing.

Aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih metoda perlindungan tebing antara lain: stabilitas dan kemampuan daya dukung tanah, planform dari alur sungai (lurus, berliku atau menganyam).

Perubahan yang terjadi pada suatu ruas sungai dapat juga disebabkan oleh adanya kegiatan yang mempengaruhi kesetimbangan angkutan sedimen di hulu maupun di hilir dari lokasi. Sehingga untuk penanganan yang menyeluruh perlu diperhatikan aktivitas pembangunan bangunan air maupun penambangan material di hulu dan di hilir lokasi terjadinya kerusakan.

Kunjungan Ke Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah

March 4, 2010

Pada tanggal 3 Maret 2010 Tim KK Teknik Sumberdaya Air (TSA) FTSL ITB dan Tim Pusat Mitigasi Bencana (PMB) ITB melakukan survei pendahuluan terkait dengan penanggulangan banjir di Kecamatan Baleendah, terutama wilayah Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah. Banjir tertinggi terjadi pada tanggal 19 Februari 2010. Di Kel. Andir Air sudah surut, namun lumpur masih menumpuk di rumah-rumah warga. Di Dusun Cieunteung Kelurahan Baleendah, air masih menggenang.

Dari tinjauan lapangan, pada daerah rawan banjir ini perlu dilakukan upaya jangka panjang maupun jangka pendek, mengingat banjir sudah sering terjadi akibat dari penurunan kualitas daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Pada umumnya lamanya waktu surut adalah akibat dari tersumbatnya saluran pembuang akibat lumpur-lumpur yang tersisa. Penanganan jangka pendek dapat dilakukan dengan pembangunan sistim tanggul dan pompa dengan luasan layanan tertentu, sehingga apabila ada satu tanggul jebol, masih dapat dilokalisir. Penanganan jangka panjang dilakukan dengan upaya pemulihan fungsi DAS dan pendidikan masyarakat.

Banjir di Wilayah Bandung Timur

March 1, 2010

Kondisi aliran sungai di beberapa ruas sungai yang memotong jalan raya Timur / AH Nasution di Kota Bandung dari tahun ke tahun cukup memprihatinkan. Pada tahun-tahun yang lalu memang sudah tampak gejala-gejala adanya respon debit aliran yang cukup cepat, sehingga menimbulkan banjir bandang/flash flood. Beberapa titik yang saat ini biasa terjadi banjir adalah di Cikadut: drainase yang buruk dan luapan sungai, daerah Sukamiskin, daerah Ujung Berung.

Kejadian ini mendorong saya untuk mengamati apa yang telah terjadi pada daerah hulu dari lokasi-lokasi ini. Dari pengamatan pada google earth, nampak bahwa pada daerah hulu terdapat lahan-lahan terbuka yang sangat sulit untuk memperlambat aliran air. Pada daerah ini banyak terdapat lahan pertanian/ladang dan perumahan. Dapat disimpulkan bahwa inilah penyebab utamanya.

Kebutuhan akan lahan untuk pemukiman menyebabkan adanya pemakaian lahan pada bagian utara dari Kota Bandung. Karena dari segi topografi lahan daerah ini merupakan lahan yang relatif bebas  banjir dan memiliki akses cukup baik ke daerah kota. Pemukiman di daerah selatan kurang begitu diminati, karena akses ke kota harus melalui daerah dataran rawan banjir di kiri-kanan Sungai Citarum. 

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah keadaan ini agar tidak menjadi lebih buruk lagi? Tentunya dengan penataan kembali daerah hulu, serta dibarengi dengan perbaikan alur sungai. Pembuatan waduk besar adalah suatu hal yang sulit dari segi ketersediaan lahan. Sehingga salah satu solusi yang mungkin dilakukan adalah dengan membuat tampungan-tampungan kecil untuk mengurangi debit puncak, dan memperbaiki alur sungai agar memiliki kapasitas yang cukup. Jumlah tampungan dan ukuran saluran tentunya memerlukan perhitungan agar diperoleh hasil yang optimum.

Cipadung Banjir

March 5, 2009

Pada tanggal 4 Maret 2009, sore, telah terjadi banjir di daerah Cipadung Kulon.  Banjir yang terjadi menggenangi jalan raya di depan Polres bandung Timur / Ujung Berung sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas dari dua arah.  banjir tersebut belum pernah terjadi sebelumnya (dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, pengamatan saya) dan datang secara tiba-tiba. 

Kutipan dari Metro TV:

 Metrotvnews.com, Bandung: Ratusan rumah warga di kawasan Cipadung Kulon, Ujungberung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam banjir akibat hujan serta luapan Sungai Cinambo. Banjir bandang juga merendam sejumlah ruas jalan hingga menimbulkan kemacetan.

Ratusan warga Cipadung Kulon berusaha mengamankan barang mereka ke tempat lebih tinggi. Ketinggian air di permukiman warga mencapai 70 sentimeter. Sejumlah warga berusaha menyedot air dari dalam rumah dengan menggunakan mesin penyedot air.

Banjir juga merendam ruas Jalan Rumah Sakit, Ujungberung dan pabrik. Akibatnya terjadi kemacetan panjang. Sejumlah kendaran banyak yang mogok saat melalui genangan air. Sejumlah warga tampak berusaha menolak para pengendara agar tidak terperosok ke dalam parit.

Menurut warga, banjir bandang terjadi secara tiba-tiba dan merendam rumah mereka. Akibatnya, sebagian warga tidak sempat mengamankan barang mereka. Banjir bandang ini merupakan yang pertama terjadi di kawasan Cipadung Kulon.(DSY)

Tempat Singgah di Jalur Selatan P. Jawa

January 5, 2009

Jika saya mengemudi melalui jalur selatan, ada beberapa tempat singgah untuk istirahat.  Ada beberapa tempat favorit untuk singgah, untuk arah perjalanan dari Yogya menuju Bandung: di suatu SPBU di Kebumen (ada toilet dan toko makanan kecil), SPBU di Cimanggu (ada mushola, kantin).   Menjelang daerah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat agak sulit menemui SPBU yang bagus, terutama setelah masuk daerah Lumbir, sehingga sebelum masuk wilayah ini sebaiknya segala keperluan makan, istirahat, ibadah dll. sebaiknya sudah diantisipasi.  Kebetulan saya juga mencatat posisi lokasi-lokasi tersebut dengan GPS, jadi mengurangi kemungkinan terlewati.

Tiada alasan untuk tidak menjadi yang terbaik

November 6, 2008

Setiap manusia diciptakan dengan keunikan masing-masing.  Setiap manusia dicaiptakan sebagai suatu yang sempurna.  Jadi, setiap Anda bisa menjadi yang terbaik dengan mengerahkan semua potensi yang ada.  Kalau orang lain sudah dinobatkan menjadi yang terbaik, itu tidak akan menutup jalan Anda menjadi yang terbaik.  Sehingga, marilah, masing-masing dari kita menjadi yang terbaik. 

Roti yang baik, adalah roti yang lezat.  Pukul besi yang baik/bagus adalah pukul besi yang mantap.  Paku yang baik adalah paku yang mampu menembus rintangan. Jaket yang baik, adalah jaket yang mampu melindungi pemakainya. 

Lalu, apakah makna dari manusia terbaik?

Ngobrol dengan Sesepuh

October 31, 2008

Setelah solat jumat, saya menuju ke fakultas untuk makan siang bersama.  Selesai makan, saya berjalan menuju ke kantor saya.  Sewaktu lewat prodi saya bertemu dengan dua dosen senior di fakultas saya.  Beliau bertanya saya baru dari mana, saya jawab dari makan siang bersama dan kemudian beliau berkomentar, “wah makan melulu, bisa gemuk dong”. Saya jawab ” wah gak tuh pak, saya kan masih kurus”.  Kemudian beliau berdua kasih komentar lagi, “Kurus atau gemuk itu adalah karena pikiran”. Wah berarti saya harus atur-atur pikiran nih biar bisa gemuk :) .

Kemudian, salah satu bercerita waktu jaman sekolah di THS dulu.  Waktu itu, yang masuk nggak sebanyak sekarang.  Jaman dahulu mungkin hanya 22 orang saja yang daftar.  Wisudanya juga bisa kapan saja.  Ada tiga tahap, dan tiap tahap harus lulus komplit semua mata pelajaran, kalau tidak… kembali ke start (kayak monopoli aja).  Ada tiga cerita unik yang beliau sampaikan… karena beliau belajar irigasi, maka beliau harus ikut kuliah tentang hubungan air-tanah-tanaman ke IPB ” Salapan bulan euy…” kata beliau.  Kata beliau yang nguji juga aneh… Kalau mau ujian, datang ke rumah sang dosen pagi-pagi.  Biasanya dosen itu main biola dulu, habis itu… dia mempersilahkan buka pintu, selanjutnya mahasiswa diuji satu persatu. Uniknya, kalau ada mahasiswa yang dapat giliran gak bisa jawab… sisanya suruh pulang.  Kata beliau, beliau harus ujian sampai 4 kali… yang artinya 4 bulan sampai beliau lulus.  Kemudian suatu waktu beliau ujian akhir. Penguji beliau berkata “Besok ujian ya, datang ke Walahar jam 09.00″, ada tiga pertanyaan yang telah dijawab dengan lancar, da kemudian lembar ujian diminta, selanjutnya penguji bertanya lagi.. “Apa itu waduk?”, Beliau jawab “Waduk itu tempat menampung air pak..”, Penguji berkomentar “Memang sama dengan ember?”… he he he ada-ada saja.  Pada satu ketika, beliau akan ikut ujian matematika, pakai baju putih, celana putih, sepatu hitam… datang menghadap asisten penguji…. waktu datang beliau langsung ditanya… “Apa itu deret?”.. Beliau tidak dapat menjawab…. yang pulang lagi deh, padahal beliau sudah belajar integral diferensial dll…, eh ujiannya lisan.

Ngantor naik apa ya?

October 28, 2008

Ada beberapa cara yang saya tempuh untuk menuju ke tempat kerja ataupun waktu pulang kerja.  Waktu awal-awal saya menempati rumah saya di Cimekar, Cileunyi saya memakai jasa angkutan umum.  Waktu tempuh sekitar satu setengah jam.  Dari rumah saya jalan kaki menuju pangkalan ojek, turun ke jalan besar Cileunyi – Cibiru. Dari situ dilanjutkan dengan naik angkutan kota ke terminal Cicaheum, untuk kemudian berganti angkot Cicaheum-Ciroyom, menuju ke kampus. Pada waktu itu ongkos trasnportasi yang mesti saya anggarkan sekitar duapuluh ribu rupiah dalam sehari.

 

Pada akhir 2005, saya mulai memakai sepeda motor sebagai sarana transportasi ke tempat kerja.  Perjalanan ke tempat kerja jadi lebih mudah dan fleksibel.  Dari segi biaya, ongkos transport juga jauh lebih murah. Perjalanan ke tempat kerja dapat ditempuh dalam waktu 45 menit.  Dengan menggunakan sepeda motor, anggaran transportasi sekitar tiga puluh ribu rupiah untuk seminggu.

 

Pada pertengahan tahun 2007, saya mendapat kemudahan untuk kredit mobil.  Kebutuhan akan mobil muncul seiring dengan bergabungnya istri dan anak saya di Bandung.  Mobil ini sering dipakai pada hari Sabtu dan Minggu saja, bila saya harus bepergian dengan keluarga; atau jika keadaan cuaca hujan.  Biaya yang diperlukan jika saya memakai mobil seminggu penuh adalah sekitar dua ratus ribu rupiah.

 

Sebetulnya saya lebih suka memakai angkutan umum, karena angkutan masal ini akan mengurangi beban lalu lintas.  Bepergian dengan kendaraan pribadi, untuk jarak yang cukup jauh dan kondisi lalu lintas yang padat dapat menguras tenaga dan pikiran, yang mungkin berdampak negatif pada cara kita mengemudi, yang pada akhirnya dapat membahayakan jiwa kita dan pengendara lainnya.  Pada suatu hari, pernah saya menjumpai tiga kejadian kecelakaan dan satu kali hampir ada kejadian kecelakaan, yang salah satunya tepat terjadi di depan kendaraan saya.  Alhamdulillah tidak terjadi kecelakaan ikutan pada kendaraan saya maupun kendaraan lain di belakang saya karena saya menghentikan kendaraan dengan mendadak.

 

Let’s drive safely and be happy !   

Mudik Part 2 (Klaten-Bandung)

October 6, 2008

Kami kembali ke Bandung pada hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2008 (H+3). Kami menyadari bahwa mungkin akan terjadi banyak antrian di perjalanan. Untuk itu kami membawa bekal makanan untuk camilan diperjalanan.  Kami berangkat pukul 06.00 dari rumah mertua, kemudian mampir sebentar ke rumah orang tua saya. Tangki bensin kami isi penuh di daerah Pandansimping.  Lalu lintas mulai padat dan di warnai antrian. Persinggahan kami yang pertama adalah di suatu pompa bensin di daerah Kebumen, sekitar pukul 10.00. Kami ke toilet dan membeli makanan ringan dan minuman penyegar. Selanjutnya perjalanan mengalami antrian yang cukup panjang dan lama.  Setelah mencapai daerah Banyumas kami singgah untuk melakukan solat dhuhur dan asar, sekitar pukul 15.00. Cuaca agak mendung, gerimis.  Kami melanjutkan perjalanan kembali sekitar pukul 15.30. Rute selanjutnya Gombong-Ciawitali.  Perjalanan kami diwarnai dengan hujan deras, dan cuaca yang mulai gelap.  Perjalan kami sangat lambat, mengingat pandangan yang terbatas dan jalan yang berliku.  Kami sampai di Desa Ciawitali pukul 18.21, dan singgah di masjid Al Istiqomah.  Pukul 19.00 kami melanjutkan perjalan kembali.  Selanjutnya kami makan malam, sekitar pukul 19.30, di daerah Ciamis.  Pukul 20.00 kami melanjutkan perjalanan, dan lalu lintas daerah Cikoneng, sudah mulai padat merayap.Sekitar pukul 23.40 kami masih mengantri menuju Rajapolah, namun pada suatu simpang empat, kami diminta masuk jalur alternatif ke arah Panjalu. Pada pertigaan pertama kami ambil ke arah kiri, sedangkan arah kanan menuju Panjalu.  Pada pertigaan selanjutnya, kami belok ke arah kanan menuju Ciamis.  Sesampainya di jalan besar, kami bergabung kembali dengan antrian. Pada rute alternatif ini kami berada pada urutan konvoi pertama, dan di belakang kami mobil-mobil pemudik yang lain mengikuti. Rasanya seperti rally saja. Akhirnya antrian mencapai Tanjakan Gentong (?), mobil-mobil berjalan perlahan karena antri, dan banyak orang di pinggir jalan membawa ganjal ban. Untuk mobil-mobil besar, ini diperlukan.  Jika tidak ada antrian mungkin tidak masalah, karena gas bisa dioptimalkan.  Namun dalam keadaan antri ini tidak mungkin dilakukan. Pada keadaan ini saya gunakan gigi 1, gas, rem tangan dan kaki juga harus siap, dan jaga jarak dengan kendaraan di depan.  Tanjakan ini dapat dilalui dengan baik, selanjutnya rute berliku siap menanti.  Akhirnya tanjakan berikutnya menunggu, alhamdulillah dapat kami lalui dengan baik.  Setelah melalui persimpangan rel kereta daerah Nagrek, lalulintas lancar, dan kami tiba di rumah pukul 01.30, tanggal 5 Oktober 2008.  Konsumsi bensin sekitar 1 liter untuk 15,6 km.

Mudik Part 1 (Bandung – Klaten)

October 6, 2008

Saya, istri dan anak saya erangkat dari rumah kami di Manglayang Regency Hari Sabtu, 27 Oktober 2008 (H-4) pukul 06.00.  Kami mengendarai Karimun Estilo, yang pada tahun lalu juga diajak mudik.  Pertama-tama kami menuju ke stasiun pengsisan bensin di jalan percobaan, Cileunyi. Setelah bensin penuh (35 liter) kami memulai perjalanan ke arah jalur selatan.  Saat memasuki daerah Rancaekek, lalu lintas sudah mulai tersendat karena adanya pasar. Selanjutnya ada beberapa kali antrian menuju Nagrek.  Ini pertama kalinya saya mengemudi melalui jalur selatan, tikungan-tikungan nya memang betul-betul tikungan. Setiap saya memutar kemudi, rasanya lama sekali hingga tikungan habis dan segera memutar roda kemudi kearah yang berlawanan. Kalau lengah dan keenakan menikung bisa-bisa telat memutar kemudinya, jadi harus 100% konsentrasi. Alhamdulillah tikungan demi tikungan telah terlewati.  Setelah menempuh jarak 75 km, kami berhenti sejenak untuk melemaskan badan. Setelah ini perjalanan lancar sampai dengan daerah Gombong, di mana terjadi antrian karena melalui pusat-pusat kegiatan. Kami melakukan solat dhuhur dan asar jamak, sekitar pukul 13.00. Kami sampai di daerah Gombong sekitar pukul 15.00.  Pada saat adzan maghrib,pukul 18.37, kami telah mencapai daerah Kutoarjo. Karena lalu lintas yang padat dan adanya antrian, kami baru sampai di kota tujuan, Klaten, pada pukul 21.30, dengan total jarak tempuh 412km, dan indikator bensin menunjukkan masih ada 1/4 tangki lagi.  Saya bersama istri tetap puasa, dan alhamdulillah perjalanan dapat dilakukan dengan selamat, dan tidak ada halangan.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.